
Mojokerto – Alvi Maulana, pria yang tega menghabisi nyawa sekaligus memutilasi kekasihnya di Kecamatan Pacet, Mojokerto, akhirnya berhasil diamankan aparat Polres Mojokerto pada Minggu (7/9/2025). Polisi terpaksa melumpuhkannya dengan timah panas saat proses penangkapan.
Kasus ini masih terus ditelusuri, termasuk oleh ahli psikologi forensik dari Surabaya, Riza Wahyuni. Menurutnya, alasan ekonomi yang diungkapkan pelaku bukanlah satu-satunya faktor. Cara Alvi menghabisi korban dan memutilasi jasadnya menunjukkan adanya indikasi masalah kepribadian serius.
Latar Belakang Pelaku
Informasi mengenai keluarga Alvi tidak banyak diketahui publik. Pria asal Dusun Aek Paing, Rantau Utara, Labuhan Batu, Sumatera Utara ini diketahui merantau ke Jawa. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Trunojoyo Madura, jurusan Informatika, lalu bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Saat kuliah, ia berkenalan dengan Tiara Angelina Saraswati, mahasiswa manajemen. Hubungan asmara keduanya terjalin cukup lama hingga sekitar lima tahun. Sejak April 2025, pasangan ini tinggal bersama di sebuah kontrakan di Jalan Lidah Wetan, Surabaya.
Warga sekitar mengenalnya sebagai sosok tertutup dan jarang bergaul. Ia biasanya hanya keluar rumah untuk membeli makanan.
Analisis Ahli Psikologi Forensik
Menurut Riza Wahyuni, tindakan Alvi tidak bisa dipandang sebagai sekadar ledakan emosi sesaat. Dari pola mutilasi yang dilakukan, ada kemungkinan pelaku memiliki gangguan kepribadian, seperti borderline personality disorder yang ditandai dengan emosi tidak stabil serta kecenderungan melukai orang lain.
Riza menambahkan, perilaku Alvi juga menunjukkan ciri narcissistic personality disorder (NPD), yakni rasa ingin selalu menang, posesif, dan merasa paling hebat. Kombinasi sifat ini dapat menciptakan dinamika relasi kuasa yang berbahaya.
Kemungkinan Faktor Lain
Selain faktor kepribadian, pengalaman kerja Alvi sebagai jagal hewan juga diduga berpengaruh. Kemampuannya memotong tubuh korban hingga bagian-bagian kecil hanya mungkin dilakukan oleh orang dengan keterampilan khusus. Meski begitu, Riza mengingatkan publik agar tidak menggeneralisasi profesi jagal dengan tindak kriminal.
Hubungan asmara Alvi dan Tiara pun diduga tidak sehat. Riza menyinggung adanya toxic relationship yang diliputi kecemburuan dan tekanan ekonomi. Faktor-faktor ini, menurutnya, bisa memperparah kondisi psikologis pelaku hingga akhirnya berujung pada tragedi.