Pagi ini, SMA 72 diguncang ledakan yang membuat seluruh siswa dan guru panik. Saya tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB, beberapa menit setelah suara dentuman keras terdengar. Suara itu memecah pagi yang biasanya tenang, terdengar hingga jalan utama di depan sekolah. Anak-anak berlari keluar sambil menangis, ada yang menahan tangan temannya, ada juga yang terjatuh karena dorong-dorongan.
Di halaman sekolah, guru-guru berlari mencoba menenangkan murid-muridnya. Seorang guru, wajahnya pucat dan napasnya tersengal, berkata, “Saya belum pernah melihat panik seperti ini. Semua anak lari keluar, beberapa bahkan terjatuh.” Di udara masih terasa bau asap, debu, dan aroma karet terbakar dari sepatu yang terinjak. Kaca jendela pecah berserakan di lantai, pintu kelas hancur, dan suara sirine ambulans mulai terdengar dari kejauhan.
Polisi dan tim penjinak bom datang beberapa menit kemudian. Mereka langsung memeriksa ruang kelas yang menjadi pusat ledakan. Tim medis pun sigap mengangkut korban. Dari informasi awal, jumlah korban ledakan SMAN72 termasuk beberapa siswa luka serius, ada yang pingsan, beberapa lainnya luka ringan karena panik dan dorong-dorongan. Pihak kepolisian menekankan angka ini masih sementara karena pendataan terus dilakukan.

Di gerbang sekolah, orang tua berdatangan. Mereka menatap gerbang sekolah dengan wajah cemas, sesekali berteriak memanggil nama anaknya. Seorang ibu menahan tangis sambil memeluk anaknya yang berhasil dievakuasi ke lapangan:
“Saya tidak tahu harus bagaimana… Hanya bisa berdoa.” Ada juga orang tua yang membawa minuman dan makanan untuk menenangkan siswa yang masih gemetar.
Warga sekitar juga turun tangan membantu. Beberapa membawa botol air, memberi minum anak-anak yang shock. Ada yang menenangkan anak-anak, ada yang membantu mengangkat korban luka ringan ke ambulans. “Kami tidak bisa diam saja. Setidaknya bisa bantu sedikit,” kata seorang relawan sambil menunjuk siswa yang masih gemetar di pinggir lapangan.
Pihak kepolisian menyebut ledakan diduga berasal dari bom rakitan yang ditanam di salah satu ruang kelas. Motifnya masih diselidiki. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah ini terkait konflik tertentu atau kriminal lokal.
Di sisi lain, sekolah sudah menyiapkan konseling untuk anak-anak yang trauma. Beberapa siswa duduk di bawah pohon, wajah pucat, sambil ditemani teman dan guru yang mencoba menenangkan. Ada yang memegang kepala, ada yang menangis pelan, semua terlihat masih kaget. Situasi ini menunjukkan bahwa selain luka fisik, trauma psikologis menjadi perhatian besar.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya keamanan di sekolah. Meski meninggalkan luka, solidaritas terlihat jelas: guru, siswa, orang tua, dan warga saling bahu-membahu. Fokus saat ini adalah menyelamatkan korban, memastikan keamanan, dan memulihkan lingkungan sekolah agar anak-anak bisa kembali belajar dengan aman.
Hingga berita ini ditulis, jumlah korban ledakan SMAN72 masih menjadi perhatian pihak kepolisian, rumah sakit, dan masyarakat. Semua berharap tragedi ini segera diungkap agar kejadian serupa tidak terulang.