
Yahukimo, Papua Pegunungan – Papua kembali berduka. Aksi brutal yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, memakan banyak korban jiwa. Para pendulang emas yang sedang bekerja menjadi sasaran kekerasan. Hingga Kamis (2/10/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 7 orang, sementara 5 orang berhasil diselamatkan oleh tim gabungan TNI-Polri.
Peristiwa ini sekaligus menambah panjang daftar kejahatan bersenjata yang dilakukan KKB terhadap warga sipil di Papua. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai kronologi kejadian, daftar korban, upaya evakuasi, peran aparat keamanan, serta dampaknya terhadap situasi sosial di Papua Pegunungan.
Awal Mula Penyerangan KKB di Yahukimo
Serangan KKB berlangsung pada 20–21 September 2025 di dua titik berbeda di Distrik Seradala, Yahukimo. Para pelaku menyerang kelompok pendulang emas menggunakan senjata api dan panah, membuat warga tidak berdaya menghadapi kekerasan tersebut.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa laporan awal menyebut ada lima orang pendulang emas tewas akibat serangan ini. Namun setelah dilakukan penyisiran lebih lanjut, jumlah korban terus bertambah hingga mencapai tujuh orang.
“Total korban yang berhasil dievakuasi oleh Satgas Ops Damai Cartenz hingga saat ini berjumlah 7 orang meninggal dunia dan 5 orang selamat,” ujar Brigjen Faizal, Kamis (2/10/2025).
Kronologi Evakuasi Korban
Proses evakuasi para korban tidak berjalan mudah karena medan yang sulit dan ancaman serangan susulan dari KKB. Tim gabungan TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Damai Cartenz harus melakukan penyisiran di hutan lebat dan area tambang.
- Evakuasi Pertama (26 September 2025)
- Dua korban pertama, Desen Dominggus dan Marselinus Manek, ditemukan di Kampung Binki, Distrik Seradala.
- Jenazah dievakuasi ke RSUD Dekai, Yahukimo untuk penanganan medis.
- Evakuasi Kedua (1 Oktober 2025)
- Tiga korban tambahan ditemukan di Kali Kulum, Distrik Seradala.
- Mereka adalah Roberto Agama alias Obet (27), Yunus Agama (29), dan Marselino Lumare (32).
- Evakuasi Ketiga (2 Oktober 2025)
- Dua korban lagi berhasil dievakuasi dari Camp Ekskavator Kali I.
- Identitas korban adalah Andika dan Fikram.
Dengan penemuan ini, total korban meninggal dunia menjadi tujuh orang.
Daftar Lengkap Korban
Korban Tewas:
- Desen Dominggus
- Marselinus Manek
- Roberto Agama alias Obet (27)
- Yunus Agama (29)
- Marselino Lumare (32)
- Andika
- Fikram
Korban Selamat:
- Bakri Laode
- Febri alias Basir
- Tarik Baruba alias Taslim
- Berti Oliver Dias
- Yohanes Bouk alias Nando (22)
Kisah Yohanes Bouk alias Nando menjadi perhatian khusus. Ia berhasil bertahan hidup selama lima hari dengan cara bersembunyi di lubang tambang. Tanpa makanan dan minuman, Yohanes berusaha tetap hidup meski tubuhnya melemah karena malaria campuran. Ia akhirnya ditemukan tim gabungan dalam kondisi selamat.
Aparat Tegaskan Perlindungan Warga Papua
Insiden ini menimbulkan keresahan warga Yahukimo dan sekitarnya. Namun aparat keamanan meminta masyarakat tetap tenang.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Adarma Sinaga, menegaskan bahwa aparat selalu hadir untuk melindungi warga Papua.
“Kami memahami peristiwa ini menimbulkan keresahan, tetapi saya tegaskan bahwa aparat keamanan selalu hadir untuk melindungi masyarakat. Operasi Damai Cartenz berkomitmen menjaga keselamatan setiap warga Papua,” ungkap Adarma.
Aparat juga terus memburu kelompok KKB pimpinan Elkius Kobak yang diduga bertanggung jawab atas serangan ini.
Dampak Sosial dan Psikologis
Kekerasan bersenjata yang menimpa para pendulang emas di Yahukimo tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi warga sekitar. Beberapa dampak yang dirasakan antara lain:
- Ketakutan masyarakat untuk bekerja di area tambang emas karena ancaman serangan KKB.
- Rasa tidak aman di kalangan warga sipil, terutama yang tinggal di daerah pedalaman.
- Gangguan ekonomi lokal, karena banyak pendulang emas dan pedagang kecil yang memilih berhenti beraktivitas demi keselamatan.
- Trauma psikologis bagi korban selamat dan keluarga korban meninggal.
Situasi ini memperlihatkan betapa konflik bersenjata di Papua masih menjadi masalah kompleks yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan aparat keamanan.
KKB dan Konflik Bersenjata di Papua
KKB di Papua dikenal sering melakukan aksi kejahatan bersenjata yang menargetkan aparat maupun masyarakat sipil. Motif mereka beragam, mulai dari politik hingga perebutan sumber daya alam.
Dalam kasus Yahukimo ini, korban adalah pendulang emas, kelompok masyarakat yang mencari penghidupan di area tambang tradisional. Ironisnya, mereka menjadi sasaran kekerasan meski tidak terlibat konflik politik.
Sejarah mencatat bahwa KKB kerap menggunakan senjata api rakitan, panah, hingga senjata modern hasil rampasan. Mereka juga sering memanfaatkan medan geografis Papua yang sulit untuk bersembunyi dari kejaran aparat.
Peran Operasi Damai Cartenz
Operasi Damai Cartenz merupakan operasi gabungan TNI-Polri yang fokus menanggulangi aksi KKB di Papua. Dalam kasus Yahukimo, operasi ini:
- Melakukan evakuasi korban baik yang selamat maupun meninggal.
- Melakukan penyisiran dan pengejaran kelompok bersenjata pimpinan Elkius Kobak.
- Menjaga keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo dan sekitarnya.
- Mengumpulkan bukti lapangan dan keterangan saksi untuk memperkuat proses hukum.
Keberhasilan evakuasi korban, terutama Yohanes Bouk alias Nando yang selamat setelah lima hari bersembunyi, menjadi bukti komitmen aparat untuk menyelamatkan setiap warga.
Analisis: Mengapa KKB Masih Berulah?
Meski aparat gencar melakukan operasi keamanan, KKB masih sering beraksi di Papua. Ada beberapa faktor yang membuat mereka bertahan:
- Medan Geografis Sulit
Papua memiliki wilayah hutan lebat dan pegunungan tinggi, memudahkan KKB untuk bersembunyi dan melakukan gerakan gerilya. - Dukungan Logistik dari Alam
Banyak kelompok KKB hidup dengan memanfaatkan hasil hutan, sehingga sulit diputus jalur logistiknya. - Motivasi Ideologis dan Ekonomi
Selain faktor politik, beberapa kelompok KKB juga memanfaatkan aksi bersenjata untuk menguasai sumber daya, termasuk tambang emas tradisional. - Keterbatasan Akses Aparat
Tidak semua daerah di Papua bisa dijangkau dengan cepat oleh aparat, sehingga memberi ruang bagi KKB untuk bergerak.
Upaya Pencegahan dan Harapan
Untuk mencegah tragedi serupa, ada beberapa langkah yang perlu diperkuat:
- Pengamanan wilayah tambang yang sering jadi target penyerangan.
- Peningkatan patroli rutin di daerah rawan.
- Pendidikan masyarakat tentang cara menghadapi situasi darurat.
- Kerjasama antara pemerintah, aparat, dan tokoh lokal dalam menciptakan keamanan berkelanjutan.
Harapan terbesar adalah agar konflik bersenjata di Papua dapat segera diminimalisir, sehingga warga sipil bisa hidup tenang dan mencari nafkah tanpa rasa takut.
Tragedi penyerangan KKB di Yahukimo, Papua Pegunungan, menjadi salah satu peristiwa paling memprihatinkan di tahun 2025. Tujuh pendulang emas tewas, lima selamat, dan masyarakat setempat kembali diingatkan akan bahaya nyata dari konflik bersenjata di Papua.
Meski aparat sudah berkomitmen untuk melindungi masyarakat melalui Operasi Damai Cartenz, tantangan ke depan masih besar. Namun dengan sinergi semua pihak, diharapkan keamanan di Papua dapat dipulihkan dan warga tidak lagi menjadi korban kekerasan.